Pendidikan Inklusi

MANAJEMEN PENDIDIKAN INKLUSI BERBASIS SEKOLAH

PADA SEKOLAH LUAR BIASA (SLB)

  1. LATAR BELAKANG

Manajemen berbasis sekolah adalah model pengelolaan penyelenggaraan sekolah yang kewenangannya diberikan seluas-luasnya kepada pihak sekolah untuk mengelola berbagai sumber daya pendidikan dengan melibatkan peran serta masyarakat sebagai lingkungan pendukung.

Melalui MBS diharapkan dapat meningkatkan efektifitas dan efisiensi dalam peningkatan mutu pendidikan. Kebijakan ini sebagai solusi alternatif dari system manajemen terpusat yang dianggap kurang kondusif dalam melibatkan peran serta masayarakat. Selain itu Manajemen Berbasis Sekolah merupakan upaya demokratisasi dan penghormatan terhadap budaya local.

Selama ini, pendidikan bagi anak berkelainan disediakan dalam tiga macam lembaga pendidikan, yaitu Sekolah Berkelainan (SLB), Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB), dan Pendidikan Terpadu. SLB, sebagai lembaga pendidikan khusus tertua, menampung anak dengan jenis kelainan yang sama, sehingga ada SLB Tunanetra, SLB Tunarungu, SLB Tunagrahita, SLB Tunadaksa, SLB Tunalaras, dan SLB Tunaganda. Sedangkan SDLB menampung berbagai jenis anak berkelainan, sehingga di dalamnya mungkin terdapat anak tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, dan/atau tunaganda. Sedangkan pendidikan terpadu adalah sekolah biasa yang juga menampung anak berkelainan, dengan kurikulum, guru, sarana pengajaran, dan kegiatan belajar mengajar yang sama. Namun selama ini baru menampung anak tunanetra, itupun perkembangannya kurang menggembirakan karena banyak sekolah umum yang keberatan menerima anak berkelainan.

Melalui pendidikan inklusi, anak berkelainan dididik bersama-sama anak lainnya (normal) untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya. Hal ini dilandasi oleh kenyataan bahwa di dalam masyarakat terdapat anak normal dan anak berkelainan (berkelainan) yang tidak dapat dipisahkan sebagai suatu komunitas. Oleh karena itu, anak berkelainan perlu diberi kesempatan dan peluang yang sama dengan anak normal untuk mendapatkan pelayanan pendidikan di sekolah (SD) terdekat. Sudah barang tentu SD terdekat tersebut perlu dipersiapkan segala sesuatunya. Pendidikan inklusi diharapkan dapat memecahkan salah satu persoalan dalam penanganan pendidikan bagi anak berkelainan selama ini.

Adapun beberapa yang harus kita pahami secara formal pendidikan inklusi dalam sekolah luar biasa standar minimal organisasi sekolah luar biasa secara umum tersusun dari unsur:

· Kepala Sekolah

· Beberapa Wakil Kepala Sekolah

· Unit Tata Usaha

· Beberapa Ketua Jurusan/Instansi

· Guru

Setelah manganalisa perkembangan Pendidikan Inklusi ini, diharapkan pembaca memiliki persepsi yang sama terhadap penyelenggaraan pendidikan inklusi sesuai manajemen pendidikan berbasis sekolah. Maka dari itu pemakalah mengharapkan pemahaman secara obyektif dan profesional terutama para pembina dan pelaksana pendidikan di lapangan.

  1. PEMBAHASAN

a. Konsep Pendidikan Inklusi Berbasis Sekolah Pada Sekolah Luar Biasa.

Pendidikan inklusi merupakan perkembangan terkini dari model pendidikan bagi anak berkelainan yang secara formal kemudian ditegaskan dalam pernyataan Salamanca pada Konferensi Dunia tentang Pendidikan Berkelainan bulan Juni 1994 bahwa “prinsip mendasar dari pendidikan inklusi adalah: selama memungkinkan, semua anak seyogyanya belajar bersama-sama tanpa memandang kesulitan ataupun perbedaan yang mungkin ada pada mereka.”

Model pendidikan khusus tertua adalah model segregasi yang menempatkan anak berkelainan di sekolah-sekolah khusus, terpisah dari teman sebayanya. Sekolah-sekolah ini memiliki kurikulum, metode mengajar, sarana pembelajaran, system evaluasi, dan guru khusus. Dari segi pengelolaan, model segregasi memang menguntungkan, karena mudah bagi guru dan administrator. Namun demikian, dari sudut pandang peserta didik, model segregasi merugikan. Disebutkan oleh Reynolds dan Birch (1988), antara lain bahwa model segregatif tidak menjamin kesempatan anak berkelainan mengembangkan potensi secara optimal, karena kurikulum dirancang berbeda dengan kurikulum sekolah biasa. Kecuali itu, secara filosofis model segregasi tidak logis, karena menyiapkan peserta didik untuk kelak dapat berintegrasi dengan masyarakat normal, tetapi mereka dipisahkan dengan masyarakat normal. Kelemahan lain yang tidak kalah penting adalah bahwa model segregatif relatif mahal.

Model yang muncul pada pertengahan abad XX adalah model mainstreaming. Belajar dari berbagai kelemahan model segregatif, model mainstreaming memungkinkan berbagai alternatif penempatan pendidikan bagi anak berkelainan. Alternatif yang tersedia mulai dari yang sangat bebas (kelas biasa penuh) sampai yang paling berbatas (sekolah khusus sepanjang hari). Oleh karena itu, model ini juga dikenal dengan model yang paling tidak berbatas (the least restrictive environment), artinya seorang anak berkelainan harus ditempatkan pada lingkungan yang paling tidak berbatas menurut potensi dan jenis / tingkat kelainannya. Secara hirarkis, Deno (1970) mengemukakan alternatif sebagai berikut:

1.Kelas biasa penuh
2.Kelas biasa dengan tambahan bimbingan di dalam,
3.Kelas biasa dengan tambahan bimbingan di luar kelas,
4.Kelas khusus dengan kesempatan bergabung di kelas biasa,
5.Kelas khusus penuh,
6.Sekolah khusus, dan
7.Sekolah khusus berasrama.

Di Amerika Serikat, diperkirakan hanya sekitar 0,5% anak berkelainan yang bersekolah di sekolah khusus, lainnya berada di sekolah biasa (Ashman dan Elkins,1994). Sedangkan di Inggris, pada tahun 1980-1990-an saja, peserta didik di sekolah khusus diproyeksikan menurun dari sembilan juta menjadi sekitar dua juta orang, karena kembali ke sekolah biasa (Warnock,1978), dan ternyata populasi peserta didik di sekolah khusus kurang dari 3% dari jumlah anak berkelainan (Fish,1985). Pendidikan inklusi mempunyai pengertian yang beragam. Stainback dan Stainback (1990) mengemukakan bahwa sekolah inklusi adalah sekolah yang menampung semua siswa di kelas yang sama. Sekolah ini menyediakan program pendidikan yang layak, menantang, tetapi sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan setiap siswa, maupun bantuan dan dukungan yang dapat diberikan oleh para guru agar anak-anak berhasil. Lebih dari itu, sekolah inklusi juga merupakan tempat setiap anak dapat diterima, menjadi bagian dari kelas tersebut, dan saling membantu dengan guru dan teman sebayanya, maupun anggota masyarakat lain agar kebutuhan individualnya dapat terpenuhi.

Selanjutnya, Staub dan Peck (1995) mengemukakan bahwa pendidikan inklusi adalah penempatan anak berkelainan tingkat ringan, sedang, dan berat secara penuh di kelas reguler. Hal ini menunjukkan bahwa kelas reguler merupakan tempat belajar yang relevan bagi anak berkelainan, apapun jenis kelainannya dan bagaimanapun gradasinya.

Sementara itu, Sapon-Shevin (O’Neil, 1995) menyatakan bahwa pendidikan inklusi sesbagai system layanan pendidikan yang mempersyaratkan agar semua anak berkelainan dilayani di sekolah-sekolah terdekat, di kelas reguler bersama-sama teman seusianya. Oleh karena itu, ditekankan adanya restrukturisasi sekolah, sehingga menjadi komunitas yang mendukung pemenuhan kebutuhan khusus setiap anak, artinya kaya dalam sumber belajar dan mendapat dukungan dari semua pihak, yaitu para siswa, guru, orang tua, dan masyarakat sekitarnya.


Melalui pendidikan inklusi, anak berkelainan dididik bersama-sama anak lainnya (normal) untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya (Freiberg, 1995). Hal ini dilandasi oleh kenyataan bahwa di dalam masyarakat terdapat anak normal dan anak berkelainan (berkelainan) yang tidak dapat dipisahkan sebagai suatu komunitas.

b. Implikasi Manajerial inklusi

Salah satu karakteristik terpenting dari sekolah inklusi adalah satu komunitas yang kohesif, menerima dan responsive terhadap kebutuhan individual siswa. Untuk itu, Sapon-Shevin (dalam Sunardi, 2002) mengemukakan lima profil pembelajaran di sekolah inklusi, yaitu:

1. Pendidikan inklusi berarti menciptakan dan menjaga komunitas kelas yang hangat, menerima keanekaragaman, dan menghargai perbedaan.

Guru mempunyai tanggungjawab menciptakan suasana kelas yang menampung semua anak secara penuh dengan menekankan suasana dan perilaku social yang menghargai perbedaan yang menyangkut kemampuan, kondisi fisik, sosialekonomi, suku, agama, dan sebagainya. Pendidikan inklusi berarti penerapan kurikulum yang multilevel dan multimodalitas.

2. Mengajar kelas yang heterogen memerlukan perubahan pelaksanaan kurikulum secara mendasar.

Pembelajaran di kelas inklusi akan bergerser dari pendekatan pembelajaran kompetitif yang kaku, mengacu materi tertentu, ke pendekatan pembelajaran kooperatif yang melibatkan kerjasama antarsiswa, dan bahan belajar tematik.

3. Pendidikan inklusi berarti menyiapkan dan mendorong guru untuk mengajar secara interaktif.

Perubahan dalam kurikulum berkatian erat dengan perubahan metode pembelajaran. Model kelas tradisional di mana seorang guru secara sendirian berjuang untuk dapat memenuhi kebutuhan semua anak di kelas harus bergeser dengan model antarsiswa saling bekerjasama, saling mengajar dan belajar, dan secara aktif saling berpartisipasi dan bertanggungjawab terhadap pendidikannya sendiri dan pendidikan teman-temannya. Semua anak berada di satu kelas bukan untuk berkompetisi melainkan untuk saling belajar dan mengajar dengan yang lain.

4. Pendidikan inklusi berarti penyediaan dorongan bagi guru dan kelasnya secara terus menerus dan penghapusan hambatan yang berkaitan dengan isolasi profesi.

Meskipun guru selalu berinteraksi dengan orang lain, pekerjaan mengajar dapat menjadi profesi yang terisolasi. Aspek terpenting dari pendidikan inklusi adalah pengejaran dengan tim, kolaborasi dan konsultasi, dan berbagai cara mengukur keterampilan, pengetahuan, dan bantuan individu yang bertugas mendidik sekelompok anak. Kerjasama antara guru dengan profesi lain dalam suatu tim sangat diperlukan, seperti dengan paraprofessional, ahli bina bicara, petugas bimbingan, guru pembimbing khusus, dan sebagainya. Oleh karena itu, untuk dapat bekerjasama dengan orang lain secara baik memerlukan pelatihan dan dorongan secara terus-menerus.

5. Pendidikan inklusi berarti melibatkan orang tua secara bermakna dalam proses perencanaan.

Keberhasilan pendidikan inklusi sangat bergantung kepada partisipasi aktif dari orang tua pada pendidikan anaknya, misalnya keterlibatan mereka dalam penyusunan Program Pengajaran Individual (PPI) dan bantuan dalam belajar di rumah.

c. Model Pendidikan Inklusi Pada Sekolah Luar Biasa (SLB)

Alternatif Penempatan

Melihat kondisi dan system pendidikan yang berlaku di Indonesia, model pendidikan inklusi lebih sesuai adalah model yang mengasumsikan bahwa inklusi sama dengan mainstreaming, seperti pendapat Vaughn, Bos & Schumn.(2000). Penempatan anak berkelainan di sekolah inklusi dapat dilakukan dengan berbagai model sebagai berikut:

1. Kelas reguler (inklusi penuh)

Anak berkelainan belajar bersama anak lain (normal) sepanjang hari di kelas reguler dengan menggunakan kurikulum yang sama

2. Kelas reguler dengan cluster

Anak berkelainan belajar bersama anak lain (normal) di kelas reguler dalam kelompok khusus.

3. Kelas reguler dengan pull out

Anak berkelainan belajar bersama anak lain (normal) di kelas reguler namun dalam waktu-waktu tertentu ditarik dari kelas reguler ke ruang sumber untuk belajar dengan guru pembimbing khusus.

4. Kelas reguler dengan cluster dan pull out

Anak berkelainan belajar bersama anak lain (normal) di kelas reguler dalam kelompok khusus, dan dalam waktu-waktu tertentu ditarik dari kelas reguler ke ruang sumber untuk belajar dengan guru pembimbing khusus.

5. Kelas khusus dengan berbagai pengintegrasian

Anak berkelainan belajar di dalam kelas khusus pada sekolah reguler, namun dalam bidang-bidang tertentu dapat belajar bersama anak lain (normal) di kelas reguler.

6. Kelas khusus penuh

Anak berkelainan belajar di dalam kelas khusus pada sekolah reguler.

Dengan demikian, pendidikan inklusi tidak mengharuskan semua anak berkelainan berada di kelas reguler setiap saat dengan semua mata pelajarannya (inklusi penuh), karena sebagian anak berkelainan dapat berada di kelas khusus atau ruang terapi berhubung gradasi kelainannya yang cukup berat. Bahkan bagi anak berkelainan yang gradasi kelainannya berat, mungkin akan lebih banyak waktunya berada di kelas khusus pada sekolah reguler (inklusi lokasi). Kemudian, bagi yang gradasi kelainannya sangat berat, dan tidak memungkinkan di sekolah reguler (sekolah biasa), dapat disalurkan ke sekolah khusus (SLB) atau tempat khusus (rumah sakit).

Setiap sekolah inklusi dapat memilih model mana yang akan diterapkan, terutama bergantung kepada:

1. jumlah anak berkelainan yang akan dilayani,

2. jenis kelainan masing-masing anak,

3. gradasi (tingkat) kelainan anak,

4. ketersediaan dan kesiapan tenaga kependidikan, serta

5. sarana-prasara yang tersedia.

d. Komponen Pendukung Pendidikan Inklusi

Mutu pendidikan (lulusan) dipengaruhi oleh mutu proses belajar-mengajar; sementara itu, mutu proses belajar-mengajar ditentukan oleh berbagai faktor (komponen) yang saling terkait satu sama lain, yaitu:

1. Input siswa,

Kemampuan awal dan karakteristik siswa menjadi acuan utama dalam mengembangkan kurikulum dan bahan ajar serta penyelenggaraan proses belajar-mengajar. Implikasinya antara lain perlu dipikirkan:

a. Siapa input siswanya, apakah semua peserta didik berkelainan
dapat mengikuti kelas reguler bercampur anak lainnya (anak
normal)?

b. Bagaimana identifikasinya?

c. Apa alat identifikasi yang digunakan?

d. Siapa yang terlibat dalam identifikasi

2. Kurikulum (bahan ajar),

Kurikulum (bahan ajar) yang dikembangkan hendaknya mengacu kepada kemampuan awal dan karakteristik siswa. Implikasinya antara lain perlu dipikirkan:

a. Bagaimana model kurikulum (bahan ajarnya) untuk kemampuan
anak yang beragam dalam kelas reguler yang sama?

b. Siapa yang mengembangkannya?

c. Bagaimana pengembangannya?

Adapun contoh kurikulum sekolah luar biasa (SLB) diantara lain ;

Kurikulum

  1. Pendekatan komunikasi menggunakan komunikasi secara oral-aural (bukan isyarat) dan metode pemerolehan bahasa Metode Maternal Reflektif (MMR/MPR) yang dicontoh dari Universitas Sint Micheel Gestel Belanda. Hal ini memungkinkan siswa mampu berbahasa dan berkomunikasi sebagai dasar untuk menguasai kompetensi yang lain.
  2. Bidang kekhususan yaitu dengan memberikan treatment Bina Persepsi Bunyi dan Irama (BPBI), Auditory Verbal dan Bina Wicara secara kontinyu dan konsisten.
  3. Bidang pengembangan keterampilan  :
    Tata boga
    Tata busana
    Tata rias dan kecantikan
    Membatik
    Sablon
    Komputer
    Melukis
    Sanggar kreatifitas
    Mulai dari produk sampai pada pemasarannya.
  4. Bidang Pengembangan Budi Pekerti (mental spiritual) meliputi  :
    1. Kegiatan kepramukaan
    2. Pembinaan seksualitas
    3. Keagamaaan (Keyakinan)
    4. Budi Pekerti
    5. Widyawisata, filltrip, dll.

Jenjang Pendidikan

Jenjang Pendidikan dan Program Unggulan Lembaga Pendidikan Anak Tunarungu memiliki jenjang  :

1. Treatment dan Therapy tumbuh kembang anak yaitu penanganan pendidikan anak bermasalah dalam perkembangannya.

2. Jenjang Taman Latihan (Taman/Playgroup) untuk anak 1,5 – 4 tahun.
Jenjang TKLB untuk anak 4 – 6 tahun.
Jenjang SDLB untuk anak 7 – 15 tahun.
Jenjang SMPLB untuk anak 16 – 18 tahun.
Jenjang SMALB untuk anak 18 – 21 tahun.

Waktu belajar :

1. untuk jenjang TLO Pagi hari Senin – Jumat, pukul 7.40 – 10.00.
2. untuk jenjang TLO Siang hari Senin – Jumat, pukul 10.00 – 12.00.
3. untuk jenjang TKLB hari Senin – Jumat, pukul 7.40 – 15.00.
4. untuk jenjang SDLB hari Senin – Jumat, pukul 7.40 – 15.00.
5. untuk jenjang SLTPLB hari Senin – Jumat, pukul 7.40 – 15.00.
6. untuk jenjang SMALB hari Senin – Jumat, pukul 7.40 – 15.00.
7. untuk jenang Kelas Khusus hari Senin – Jumat, pukul 7.40 – 15.00.

Dari seluruh jenjang tersebut di atas yang menjadi program andalan (core business) adalah “Kemampuan Wicara”  siswa tunarungu. Dasar pemilihan Core Business adalah :

· Program yang diminati oleh stakeholders (siswa, orangtua siswa) dan sekolah calon integrasi.

· Prestasi Wicara yang dicapai dalam proses pembelajaran dan pelatihan.

· Prestasi Wicara yang dicapai dalam upaya berintegrasi pada sekolah umum.

· Pemanfaatan dan pengoptimalan kepekaan sisa-sisa pendengaran siswa.

· Tersedianya kualitas tenaga kependidikan.

3. Tenaga kependidikan (guru/instruktur/ pelatih),

Tenaga kependidikan (guru/instruktur/pelatih/therapist dsb.) yang mengajar hendaknya memiliki kualifikasi yang dipersyaratkan, yaitu memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap tentang materi yang akan diajarkan/dilatihkan, dan memahami karakteristik siswa. Implikasinya antara lain perlu dipikirkan:

4. Sarana-prasarana,

Sarana-prasarananya hendaknya disesuaikan dengan tuntutan kurikulum (bahan ajar) yang telah dikembangkan.

Sarana-Prasarana Umum


1. Ruang kelas beserta perlengkapannya (perabotnya);
2.
Ruang praktikum (laboratorium) beserta perangkatnya;
3. Ruang perpustakaan, beserta perangkatnya;
4. Ruang serbaguna, beserta perlengkapannya;
5. Ruang BP/BK, beserta perlengkapannya;
6.
Ruang UKS, beserta perangkatnya;
7. Ruang Kepala Sekolah, Guru, dan Tata Usaha, beserta perabotnya;
8. Lapangan olahraga, beserta peralatannya;
9. Toilet;
10. Ruang ibadah, beserta perangkatnya;
11. Ruang kantin


Sarana Khusus

a. Alat Asesmen

1) SVR Trial Lens Set
2) Snellen Chart
3) Ishihara Test
4) Snellen Chart Electronic

b. Orientasi dan Mobilitas

1) Tongkat panjang
2) Tongkat lipat
3) Blind fold
4) Bola bunyi
5) Tutup kepala


c. Alat Bantu Pelajaran/Akademik


1) Globe Timbul
2) Peta Timbul
3) Abacus
4) Penggaris Braille
5) Blokies (Sejumlah dadu dengan simbol braille dengan papan berkotak)
6) Puzzle Ball
7) Papan Baca
8) Model Anatomi Mata
9) Meteran Braille
10) Puzzle Buah-buahan
11) Puzzle Binatang
12) Kompas Braille
13) Talking Watch
14) Gelas Rasa
15) Botol Aroma
16) Bentuk-bentuk Geometri
17) Collor Sorting Box
18) Braille Kit
19) Reglets & Stylush
20) Mesin Tik Biasa
21) Mesin Tik Braille
22) Komputer dan Printer Braille
23) Kompas bicara
24) Kamus bicara


d. Alat Latihan Fisik


1) Catur Tunanetra
2) Bridge Tunanetra
3) Sepak Bola dengan Bola Berbunyi
4) Papan Keseimbangan
5) Power Raider
6) Static Bycicle


Anak Berbakat

Disamping memberdayakan atau mengoptimalkan penggunaan prasarana yang ada apabila di sekolah inklusi peserta didiknya ada yang berbakat, prasarana khusus yang perlu disediakan adalah ruang asesmen.

Anak yang Mengalami Kesulitan Belajar

Prasarana khusus yang perlu disediakan di sekolah inklusi, apabila peserta didiknya ada yang mengalami kesulitan belajar meliputi:

a. Ruang Asesmen
b. Ruang Remidial

5. Dana,

Penyelenggaraan pendidikan inklusi di sekolah reguler memerlukan dukungan dana yang memadai. Untuk itu dapat ditanggung bersama antara pemerintah, masyarakat, dan orang tua siswa, serta sumbangan suka rela dari berbagai pihak.
Implikasinya antara lain perlu dipikirkan:

a. Dari mana sumber dana untuk operasional sekolah inklusi?
b. Untuk keperluan apa saja dana tersebut?

6. Manajemen (pengelolaan),

Penyelenggaraan pendidikan inklusi memerlukan manajemen yang berbeda dengan sekolah reguler. Implikasinya antara lain perlu difikirkan:

a. Bagaimana manajemennya?

b. Siapa saja yang dilibatkan?

c. Apa tugas dan fungsinya?

7. Lingkungan (sekolah, masyarakat, dan keluarga),

Agar tercipta suasana belajar yang menyenangkan maka lingkungan belajar dibuat sedemikian rupa sehingga proses belajar-mengajar dapat berlangsung secara aman dan nyaman. Implikasinya antara lain perlu difikirkan:

a. Bagaimana lingkungan sekolahnya?

b. Bagaimana lingkungan sekitaranya?cBagaimana lingkungan
rumah tangganya?

c. Upaya apa yang dilakukan dalam rangka meningkatkan
peranserta masyarakat dan orang tua untuk meningkatkan mutu
pendidikan di sini?

8. Proses Belajar Mengajar

Proses belajar-mengajar lebih banyak memberikan kesempatan belajar kepada siswa melalui pengalaman nyata. Implikasinya antara lain perlu dipikirkan:

Akomodasi bagi murid berkebutuhan khusus berarti bahwa sebaiknya Anda membuat instruksi Anda seefektif mungkin. Berikut beberapa cara melakukannya:

1) Berfokuslah pada hal-hal inti
Ini berarti: guru dapat membantu murid lebih mudah belajar, jika ia sendiri memahami apa hal inti ini yang perlu diketahui atau mampu dilakukan murid setelah suatu pelajaran selesai. Sebagian materi pengajaran memberikan informasi ini, tetapi penting bahwa Anda memahami apa tepatnya yang ingin Anda ajarkan kepada murid.

2) Gunakan langkah dan strategi yang jelas
Ini berarti: guru dapat membantu murid lebih mudah mempelajari konsep atau keterampilan baru, dengan cara mengajari mereka mengikuti serangkaian prosedur atau langkah. Langkah-Iangkah ini sebaiknya mencerminkan cara yang efisien dan efektif untuk menerapkan sebuah konsep atau menyelesaikan sebuah tugas, sebagaimana yang dilakukan seorang ahli.

  • Ketika guru memperkenalkan konsep atau proedur baru, langkah-langkahnya sebaiknya dicontohkan dengan teknik berpikir-sambil-diucapkan, yakni sang guru menggambarkan proses mental yang digunakan.
  • Ada materi kurikulum yang tidak memberikan instruksi startegi secara eksplisit. Murid diharapkan mampu menemukan langkah-langkah dan startegi sendiri. Jika Anda menggunakan materi seperti ini, Anda sebaiknya menambahkan instruksi strategi yang jelas. Anda akan mendapati bahwa akan lebih hanyak murid yang bisa belajar menggunakan nalar dan menerapkan konsep jika ada serangkaian prosedur eksplisit yang mereka ikuti.
  • Ada strategi yang terlalu luas. Menyeluruh murid untuk “merencakan sebelum menulis” tidak terlalu membantu. Strategi yang lebih bermanfàat adalah memberikan bimbingan spesifik tentang cara mencari ide, mengelaborasi, dan cara menilai rencana menulis tersebut.
  • Bayangkan diri Anda sebagai pe1ajar pemula. Apakah Anda akan mampu menggunakan strategi yang dilampirkan?Anda dapat memodifikasi materi untuk menamhahkan strategi atau mengubah materi yang ada. Menemukan strategi yang pas bukanlah tugas mudah. Anda mungkin harus mengujinya pada murid-murid dan merevisinya kalau tidak cocok.

3) Memberikan bantuan sementara
Bantuan sementara bisa berupa hal-hal seperti:

  • Petunjuk lisan
  • Menstabilo informasi atau diagram secara visual
  • Jenis bantuan lain yang digunakan murid untuk mulai membangun pengetahuan dan kecakapan mereka dalam sebuah keterempilan.

4) Kaitkan hal yang sedang dipelajari dengan pengetahuan latar
5) Ulangi pelajaran agar murid fasih dan mampu melakukan generalisasi

  1. KESIMPULAN

Jadi pada dasarnya pendidikan berbasis sekolah pada sekolah luar biasa adalah sebuah wadah yang progresif untuk menampung anak-anak yang mempunyai kelainan. Dengan adanya program pendidikan inklusi yang berbasis sekolah pada sekolah luar biasa diharapkan dapat menjawab pertanyaan dari kalangan masyarakat yang mempunyai anak yang cacat. Tapi itu semua tidak akan terwujud ketika semua komponen yang bersangkutan dengan sekolah luar biasa tidak terpunuhi.

Adapun standar minimum komponen untuk mencapai target bahwa pengelolaan pendidikan inklusi sekolah luar biasa dapat terwujud diantara lain :

    1. Struktur kepengurusan diharapkan standar organisasi
    2. Manajerial bahan pengajar (kirikilum), dan pendidiknya harus sesuai dengan kapasitasnya.
    3. Sarana dan prasarana yang menunjang.
    4. Dari segi lingkungan diharapkan seimbang, akademik, keluarga, dan masyarakat.
    5. Dari segi finansial yang cukup.

  1. PENUTUP

Demikian makalah yang kami buat, ada kalanya harapan pemakalah terhadap perkembangan dunia pendidikan sekolah luar biasa (SLB) mohon pemerintah untuk mananggapi dengan serius agar warga masyarakat yang telah banyak mengalami kelainan dapat di didik sesuai potensi masing-masing. Serta dapat mengatasi atau manjawab permasalahan yang muncul dari dampak perkembangan globalisasi yang memicu untuk selalu siap bersaing.

About these ads

~ by m4y4r15 on June 20, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: